Kenapa Sesuatu Hal Tidak Pernah Dimulai

Kamu pernah merasa jadi orang yang serba “nanti”? “Nanti kalau sudah punya kamera aku mau ngonten” “Nanti kalau ada waktu aku mau olahraga” “Nanti kalau temannya sudah ada aku baru mau bisnis&#8221…

3 min read

Kamu pernah merasa jadi orang yang serba “nanti”?

“Nanti kalau sudah punya kamera aku mau ngonten”

“Nanti kalau ada waktu aku mau olahraga”

“Nanti kalau temannya sudah ada aku baru mau bisnis”

Aku juga begitu, bahkan beberapa kali di hidup ini. Mau mulai ngonten, cari alasan untuk menunda. Mau mulai konsisten olahraga, cari sepatu yang enak dulu baru mulai. Mau mulai nulis, nunggu ada tempat yang enak dulu.

Aku sempat ngerasa kalau aku itu tipe orang yang nunggu suatu kondisi itu sempurna dulu untuk bergerak, dampaknya aku selalu cari alasan supaya menanti-nantikan banyak hal.

Sampai pada akhirnya aku mulai berubah, aku menerapkan beberapa hal di hidupku untuk tidak lagi menjadi orang yang “nanti”.

Salah satunya aku berupaya menjadi orang yang retrospective, aku sering lihat ke belakang, dan ternyata kita tidak perlu melihat terlalu jauh untuk itu, cukup lihat hari kemarin, lalu tanya pada diri sendiri? Apakah kemarin aku 100%? Atau setidaknya 90%?

Tentunya kebanyakan hal di dunia ini memakan waktu, salah satunya ketika kita sedang ingin berubah.

Kalau diingat-ingat, aku menjadi orang “nanti” yang sangat parah itu di tahun 2017, lalu setelah itu di beberapa bagian di hidupku aku kembali menjadi si tukang menunda itu lagi, entah mengapa. Aku merasa beruntung banyak orang masih mempercayaiku terutama dalam hal bisnis.

Sekarang retrospective menjadi bagian dari hidupku, tentunya dengan banyak hal lain sebagai pendukungnya.

Untungnya anakku, terkadang menjelaskan isi perasaannya padaku, waktu bermain yang kurang, ingin makan es krim bersama, ingin ditemani berolahraga. Hal itu membuatku bertanya pada diri sendiri “apakah aku terlalu banyak menghabiskan waktu untuk hal lain?”

Retrospective bukan cara untuk menyalahkan diri sendiri, tapi suatu pendekatan supaya kita lebih sadar atau bahasa sekarang mindfull, dan tidak terlalu berfokus pada faktor eksternal yang mempengaruhi diri kita.

Tanpa retrospective mungkin aku tidak akan mulai membangun English with Rangga karena aku tidak punya team sendiri, dan tempat mengajar khusus, aku juga tak akan membangun Geaber usaha IT-ku karena aku tidak punya kantor.

Dengan retrospective aku melihat ke dalam diri, dan menyadari kalau sebetulnya tak ada yang salah, dan alasanku untuk menunda bahkan tidak memulai sama sekali itu sangat tidak relevan.

Aku kadang berpikir kalau banyak di antara kita yang memiliki ribuan alasan untuk memulai sesuatu, namun merasa terhambat dengan satu alasan lain.

“Aku harus berolahraga karena aku ingin sehat, aku ingin terlihat lebih baik, aku ingin lebih disiplin, aku ingin tulang-tulangku kuat, postur tubuh yang mantap. Oh iya tapi aku belum punya sepatu, nanti sajalah…”

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *