Anak 90an Kebagian Semuanya

Sebagai anak kelahiran 90an, aku merasa jadi generasi yang kebagian semua hal, aku menyaksikan transisi teknologi, perubahan fashion, pergantian pemerintahan, sampai ke pilihan makanan. Oh iya, mainan juga berubah banget, dulu kita…

3 min read

Sebagai anak kelahiran 90an, aku merasa jadi generasi yang kebagian semua hal, aku menyaksikan transisi teknologi, perubahan fashion, pergantian pemerintahan, sampai ke pilihan makanan. Oh iya, mainan juga berubah banget, dulu kita pakai CD atau kaset, sekarang pakai hape daong sudah bisa main game, online pula.

Dulu aku pengguna setia SMS, yang beli paket SMS 100 kali seharga 3000 rupiah (bener kan promo ini?). Tapi popiularitas SMS tidak lama, banyak orang mulai jadi pengguna Blakberry dengan Blackberry Messengernya (BBM), nostalgia abis. PIN Blackberry Messenger atau yang lebih dikenal dengan PIN BB dulu hal yang eksklusif banget, popularitasmu naik 1000% kalau kamu punya PIN BB. Era pasang status, bisa ngintip orang lagi dengerin apa dimulai dengan Blackberry Messenger.

Jangan lupa sama Yahoo Messenger, kalau kalian lumayan nerd pasti kenal sama aplikasi yang cuma bisa jalan di komputer ini, tapi sayang Yahoo Messenger ini bisa dibilang kalah populer sama BBM yang waktu itu lebih mobile.

Kalau aku ingat-ingat, tak sedikit dari teman-temanku yang sempat mampir ke iPhone buat cobain fitur iMessage, waktu itu di iPhone 3G atau iPhone 3Gs, aku kurang ingat. Yang jelas kurangnya iMessage ini karena terlalu “dekat” mirip SMS biasa, jadinya kurang berasa spesial, beda banget sama iMessage sekarang.

Sekarang sih keliatannya yang paling banyak dipakai itu WhatsApp ya, soalnya bisa di semua device, bisa nelpon pula. Oh iya, jangan lupa aplikasi Line!

Aku nulis ini sebetulnya cuma karena nyadar kalau blog pribadiku kosong, iya lah kena hack mulu, terus backup juga ga pernah punya, kalaupun ada waktu di-restore hasilnya ngaco. Jadi ya mungkin kita bakalan mulai semuanya dari 0 lagi, buatku sendiri nulis itu bikin mikir jadi lancar, sejak jadi bapak dua anak distraksi makin banyak, jadinya mau fokus di satu hal sampai selesai itu bisa jadi lebih sulit, atau bahkan akhirnya tak selesai sama sekali.

Karena aku kelahiran 1993, teman-temanku pastinya banyak yang anak 90an, tak jauh dari 92, 93, 94,94, 96. Usia kita sekarang di 30an dengan keadaan yang bervariasi, ada yang udah berkeluarga, ada yang serius banget sama hobinya, ada yang ga move on dari selera humor garingnya, ada yang sukses jadi karyawan, ada yang jadi ASN, ada yang udah jadi motivator, ada yang udah jadi dokter, tapi sayangnya belum ada yang buka toko pancing.

Kita semua ngejalanin hal yang berbeda-beda, dan somehow semua perbedaan itu bikin sadar kalau kehidupan itu sifatnya sangat sementara.

Mungkin kalian sering mendengar orang bilang “hidup itu sementara, santai saja” dan semakin menua aku merasa kata sementara itu semakin kuat maknanya. Dan hal itu semakin jelas ketika aku memasuki usia 30 something.

Aku dulu tak pernah berpikir, atau setidaknya berpikir serius kalau masa-masa remajaku akan benar-benar berakhir, dan setelah itu pun aku tak pernah dengan serius menyadari kalau setelah kuliah akan ada masanya aku mencari kehidupanku sendiri, aku tak pernah serius fase.

Untungnya aku tak merasa terlambat untuk sadar kalau sebuah masa, bahkan yang sekarang aku jalani pun akan melanjutkan ceritanya.

Aku terkadang suka mengingatkan diriku sendiri kalau aku hanyalah kumpulan dari keputusan-keputusan yang sebagian buruk dan sebagian lagi ternyata bisa aku nikmati. Mungkin itu kunci dari hidup ini ya, yaitu menyadari konsekuensi atas pilihan yang diambil. “Hidup adalah pilihan”.

Sekarang dengan usiaku yang tak begitu jauh dari 40 tampaknya aku harus lebih aware, lebih sadar maksudnya dengan apa yang menjadi pilihanku. Karena aku merasa tak 100 persen selama ini menyaksikan pergantian waktu, kalian ngerasa gitu juga?

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *