Primary Navigation

MENCARI RASA NYAMAN

Nyaman dengan diri sendiri termasuk juga nyaman dengan siapa pun kita, nyaman dengan kekurangan dan kelebihan yang kita punya, nyaman dengan kekalahan yang kita alami, nyaman dengan kegagalan di masa lalu, nyaman dengan apapun yang kita miliki. Kalau sudah sepenuhnya nyaman dengan diri sendiri, kita akan lebih mudah menyadari bagian-bagian mana saja dalam diri dan hidup kita yang harus kita kembangkan, kembali lagi, hal ini menuntut kesadaran akan siapa kita, apa kita.

Untuk sadar siapa kita, yang pertama harus kita lakukan adalah menjadi jujur, ke siapa jujurnya? Yep, ke diri sendiri. Jujur tentang kita ini maunya apa, “apa saya betul-betul suka dengan apa yang saya kerjakan?”, “Apa saya hanya ingin terlihat baik dan bukan benar-benar baik?”, “Apa saya bukan orang yang ramah?”, “Apa saya orang yang lucu atau hanya ingin menghibur orang?”.

A little discomfort is always there, you just have to see the bigger comfort

– Me, of course.

Salah satu hal tersulit dalam pengembangan diri yang baru-baru ini saya rasakan adalah bagian dimana saya harus menanyakan pertanyaan-pertanyaan kepada diri sendiri, dibagian inilah ketidaknyamanan itu mulai terasa, ternyata saya kurang disini, ternyata saya kurang disana, yang ini harus dibenerin, yang itu harus ditinggalin, yang ini harus dikejar, yang itu harus diutamakan, yang ini harus diperhatikan, lha kenapa jadi banyak begini? Nah disinilah dimana kita akan sadar dan bisa memporsikan perhatian kita ke masing-masing arah. Disini kita dapat obatnya, jalan keluar dari apa kalimat “apa sih ini, rasanya ada yang salah gitu, tapi apa ya kira-kira?”. Saat mempertanyakan diri sendiri pun, kesadaran penuh terhadap apa yang kita lakukan saat itu harus sangat diperlukan, sedang apa kita, dimana, barusan ngapain, nanti ngapain, hal ini bahkan membantu hal-hal sepele seperti menyadarkan kita kalau kita lupa bawa charger ke kantor atau ada tempat yang harusnya kita kunjungi, atau ada email yang harus kita kirim.

Saya sendiri sadar, semua butuh proses, dan kenapa rasa nyaman itu penting buat saya?, yaaa karna saya rasa dengan kenyamanan kita bisa jadi versi terbaik diri kita sendiri, dengan begitu semua menjadi jelas, tujuan, mimpi, jalan keluar dari masalah, kendali diri, akan dapat kita kuasai.

Banyak dari kita yang terkadang lupa kalau kenyamanan itu dapat diraih. Bukan kenyamanan yang selalu datang, melainkan kitalah yang terkadang hanya harus menjemputnya. Biasanya yang begini nih karna panik, nyaman dateng, lagi enak-enaknya mageran dihari Minggu eeeeh ternyata disuruh si boss dateng ke kantor karna urgent, diperjalanan menggerutu, sampai kantor pasang muka ramah, senyum palsu disebar padahal emosi terbakar. Dimana letak “enaknya” berdasarkan kasus diatas? IYA GAK ADA! Bayangin aja lagi nyaman-nyamannya disuruh kerja. Disini “enak” memang tidak bisa dijadikan kata kunci, tapi dengan terjadinya “panggilan dadakan oleh boss supaya ke kantor” kita dapat melatih kesadaran kita yang nantinya bisa aja mendatangkan si nyaman, coba deh! Kalau nanti ada sesuatu yang “tidak enak” terjadi, coba untuk ambil waktu 2 sampai 3 menit saja untuk melihat kedepan untuk sadar betapa banyaknya hal didepan mata kita yang bisa membantu kita untuk menjemput nyaman, dari gantungan pakaian kita yang membantu kita agar lebih nyaman memilih pakaian, dari shower gantung kita yang menjatuhkan air supaya kita tidak perlu susah-susah lagi menunggu air bak mandi penuh, dari sepatu super nyaman yang kita beli sendiri, dari kendaraan kita yang tinggal colokin kunci terus nyala, sampai ke parkiran kantor yang sudah disediakan khusus untuk parkir kendaraan karyawan. See? It’s always the little things that count.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: