Indonesia selalu penuh dengan kejutan, sejarahnya yang penuh dengan cerita-cerita badass masih menyimpan fakta-fakta yang belum banyak diketahui orang-orang.

Fakta pertama, saat proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, Presiden Soekarno sedang sakit, sekitar jam sebelum dibacakannya teks Proklamasi, Presiden pertama Indonesia ini masih tertidur di kamarnya di Jalan Pegangsaan Timur No. 56, Jakarta Pusat. Soekarno sedang terkena penyakit Malaria Tertana dan suhu tubuhnya sangat tinggi. Malam sebelum dibacakannya teks Proklamasi, Soekarno begadang bersama sahabat-sahabatnya untuk menyusun konsep teks proklamasi di rumah Laksamana Maeda.

Kedua, naskah asli proklamasi tidak disimpan pemerintah Indonesia, melainkan disimpan dengan baik-baik oleh seorang wartawan bernama B.M. Diah. Konon, Diah menemukan naskah asli itu di sebuah keranjang sampah di rumah Laksamana Maedapada 17 Agustus 1945 dini hari. Diah menyerahkan naskah asli itu ke Presiden Soeharto setelah menyimpannya selama 46 tahun 9 bulan dan 19 hari.

Ketiga, awalnya Bung Hatta mengusulkan agar naskah Proklamasi ditandatangani oleh semua orang yang hadir dalam proses penysunan naskah Proklamasi, tetapi usulan itu ditolak oleh Sukarni yang kala itu seorang tokoh pemuda. Bung Hatta menyarankan hal ini untuk mengikuti Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat yang idenya ini disetujui oleh Soekarno, yang pada akhirnya naskah Proklamasi ini hanya ditandatangani oleh Soekarno dan Hatta atas nama seluruh Rakyat Indonesia.

Keempat, Proklamasi Kemerdekaan awalnya direncanakan akan di dilakukan di Lapangan Ikada Jakarta. Hal ini adalah ide dari kelompok pemuda, namun ditolak oleh Soekarno, yang berpendapat kalau hal ini dapat menimbulkan salah paham dan bentrok antara rakyat dan penguasa militer Jepang karna dilaksanakan di lapangan umum dan acara ini merupakan Rapat Umum.

Kelima, Sang Saka Bendera Merah Putih dibuat dari seprai dan kain milik tukang soto, menurut satu versi sejarah

Keenam, Negara Mesir secara de facto atau secara nyata mengakui kemerdekaan Indonesia pada 22 Maret 1946. Dan pada 10 Juni 1947, Mesir mengakui kedaulatan Indonesia secara de jure atau berdasarkan hukum. Kemudian, dengan hubungan perjanjian persahabatan, pemerintah Indonesia mendirikan Kedutaan Indonesia disana, secara bertahap negara-negara lain di Timur Tengah memberikan pengakuan dan dukungan secara de jure terhadap kemerdekaan Indonesia.

Ketujuh, Peran Palestina dalam Kemerdekaan Indonesia sudah terasa 1 tahun sebelum kemerdekaan Indonesia yang sebenarnya, yaitu pada 6 September 1944. Pengakuan serta dukungan tersebut disebarluaskan ke seluruh dunia Islam oleh seorang tokoh besar di Palestina, yaitu Syekh Muhammad Amin Al-Husaini.

Kedelapan, foto-foto hasil dokumentasi kemerdekaan Indonesia hampir dirampas oleh Jepang. Adalah Frans Mendoer yang mengabadikan detik-detik kemerdekaan Indonesia, yang saat itu sempat didatangi tentara Jepang. Frans dengan keberaniannya berbohong kepada tentara tersebut dengan mengatakan kalau hasil negatif fotonya sudah diserahkannya kepada Barisan Pelopor,. Padahal, Frans sudah menanam negatif foto-foto tersebut di bawah pohon di dekat kantor Asia Raja. Berkat jasa dan keberaniannya, seluruh rakyat Indonesia bisa mngetahui gambaran pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Kesembilan, 17 Agustus 1945 merupakan hari ke-8 di bulan Ramadhan yang juga kebetulan bertepatan di hari Jumat, hari istimewa bagi umat Islam.

Kesepuluh, Bung Hatta menugaskan B.M. Diah untuk menggandakan dan menyebarluaskan teks naskah Proklamasi.

Kesebelas, tiang untuk mengibarkan Sang Saka Bendera Merah Putih dipersiapkan hanya beberapa menit sebelum pembacaan teks Proklamasi oleh Barisan Pelopor yang dipimpin oleh Komandan PETA.

Kedua belas, upacara proklamasi saat itu sangat sederhana, tanpa protokol, tanpa korps musik, tanpa konduktor, dan tanpa pacaragam. Tiga acara utama pada hari itu hanyalah: Pembacaan Naskah Proklamasi, Pengibaran Bendera Merah Putih, dan terakhir dalah sambutan Wali Kota Seowirjo dan Dr. Moewardi.

Ketiga belas, setelah upacara Proklamasi, datanglah 5 orang opsir Jepang yang bermaksud melarang Soekarno membacakan teks Proklamasi, namun kedatangan tersebut terlambat, Proklamasi sudah dibacakan. Dan untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, Barisan Pelopor yang menjaga Presiden Soekarno mengepung 5 orang opsir tersebut, alhasil mereka pun pergi tanpa berkata-kata. Setelah itu, Soekarno memerintahkan untuk dibentukkan Barisan Berani Mati untuk menjaga rumahnya serta benrea Merah Putih yang berkibar.

Keempat belas, pembacaan teks proklamasi tidak terekam, sehingga Soekarno harus mengulang lagi pembacaan teks proklamasi pada tahun 1951 atas bujukan Yusuf Ronodipuro.